FEBI UIN Syekh Wasil Kediri Gandeng WYDII, Perkuat Kapasitas Mahasiswa dalam Dukungan Psikologis
Seseorang yang sedang menghadapi masalah terkadang tidak membutuhkan nasihat panjang, melainkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi. Namun, menjadi pendengar yang baik juga membutuhkan keterampilan, empati, dan pemahaman agar dukungan yang diberikan tepat. Berangkat dari pentingnya hal tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Syekh Wasil Kediri berkolaborasi dengan Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII) dalam kegiatan Beyond Awareness: Building Youth Capacity for Psychological Support and Policy Advocacy pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Mengusung tema “Melampaui Kesadaran: Penguatan Kapasitas Generasi Muda dalam Dukungan Psikologis dan Advokasi Kebijakan”, kegiatan ini berlangsung pukul 08.00–17.00 WIB di Ruang Rapat Lantai 1 Gedung FEBI UIN Syekh Wasil Kediri. Kegiatan ini diinisiasi oleh Wakil Dekan III FEBI, Ibu Dr. Nuril Hidayati, S.Fil.I., M.Hum., dengan dukungan Women's Learning Partnership (WLP) dan Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Sebanyak 32 mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan yang menghadirkan Ibu Rakhma W. Puteri, M. Psi., Psikolog, selaku Direktur Helpline WYDII, sebagai pemateri pelatihan dukungan psikologis.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pengenalan tujuan pelatihan, kemudian dilanjutkan dengan permainan interaktif “Bola Salju”. Peserta menuliskan pertanyaan pada selembar kertas, meremasnya menjadi bola kertas, lalu melemparkannya kepada peserta lain. Penerima bola kertas kemudian membaca dan menjawab pertanyaan yang diperoleh. Permainan ini menciptakan suasana santai sekaligus membuka ruang interaksi antarpeserta sebelum memasuki materi utama.
Pembahasan pertama berfokus pada empati dan simpati. Melalui video edukasi, peserta diajak memahami perbedaan keduanya serta melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Peserta juga belajar bahwa memberikan dukungan tidak selalu berarti harus memiliki jawaban atau solusi. Kesediaan mendengarkan dan berusaha memahami perasaan seseorang dapat menjadi langkah awal untuk memberikan dukungan yang tepat.
Materi kemudian berlanjut pada literasi emosi, yaitu kemampuan mengenali dan memahami emosi diri sendiri maupun orang lain. Dalam sesi ini, fasilitator membacakan sejumlah situasi, sementara peserta bergerak menuju pilihan emosi yang tersedia di beberapa titik ruangan sesuai dengan respons mereka. Setelah menentukan pilihan, peserta menjelaskan alasannya. Permainan ini menunjukkan bahwa situasi yang sama dapat memunculkan respons emosional yang berbeda pada setiap orang.
Setelah istirahat, peserta mempelajari keterampilan komunikasi, termasuk mendengarkan secara aktif dan mengajukan pertanyaan terbuka. Keterampilan ini membantu peserta membangun percakapan yang nyaman, memberikan ruang bagi orang lain untuk bercerita, serta menghindari respons yang terkesan menghakimi.
Pelatihan dilanjutkan dengan materi manajemen stres dan teknik relaksasi. Peserta diperkenalkan pada teknik pernapasan 4-7-8 dan lima indra untuk membantu menenangkan diri saat menghadapi tekanan. Selain membahas berbagai pemicu stres dalam kehidupan mahasiswa, sesi ini juga menjelaskan batasan peran pendamping sebaya atau Peer Active Listener (PAL). Peserta diajak memahami bahwa dukungan teman sebaya dapat menjadi langkah awal, tetapi tidak menggantikan bantuan tenaga profesional ketika masalah membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Dari materi, peserta kemudian beralih ke praktik melalui drama bertema kesehatan mental. Mereka dibagi menjadi lima kelompok, dengan setiap kelompok menyusun dan menampilkan drama dengan tema yang berbeda. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi situasi yang berkaitan dengan kesehatan mental, bekerja sama, serta menggambarkan persoalan dari beragam sudut pandang.
Melalui kegiatan Beyond Awareness, kolaborasi FEBI UIN Syekh Wasil Kediri dengan WYDII menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan dukungan psikologis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya membangun lingkungan yang suportif tidak hanya berawal dari kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, tetapi juga dari kemampuan mendengarkan, memahami, dan merespons kondisi orang lain secara tepat.
Penulis : Umi Alfiatul Arfik
red: FEBI Media
