Program Studi Ekonomi Syariah UIN Syekh Wasil Kediri, Peduli Ekonomi Pesisir mealui Penguatan Ekonomi Pesisir Dan Blue Economy: International Community Service: Resilience Of Fisherman And Coastal Msmes In Southern East Java

Kaprodi Ekonomi Syariah UIN Syekh Wasil Kediri Dr. M. Wildan Fawaid dan 6 orang dosen pada hari Selasa 8 September 2026, bersama 60 orang akademisi dari 42 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam  Negeri dan Swasta dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam APSESI (Asosiasi Program Studi dan Jurusan Ekonomi Syariah Indonesia) melakukan Pengabdian Masyarakat kepada para nelayan dan UMKM yang bertajuk “International Community Service: Resilience Of Fisherman And Coastal Micro, Small, and Medium Enterprises/MSME In Southern East Java". Kegiatan Ini Berlangsung di Pantai Sine, Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.

 International Community Service ini berupaya mendorong ketahanan ekonomi masyarakat pesisir dengan menyinergikan sumber daya masyarakat dan industri perbankan Syariah serta Lembaga yang bergerak dalam konservasi lingkungan. Mereka dipertemukan untuk mendiskusikan masalah-masalah yang ada di lapangan, kemudian membangun kerjasaman dalam mencari solusi yang berkelanjutan. Acara di awali dengan Focus Grup Disscusion di pinggir pantai Sine dengan moderator Dr. Nuril Hidayati, S.Fil.I , M.Hum WADEK III FEBI UIN Syekh Wasil Kediri berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang sangat tinggi. Diskusi dibuka oleh Ketua Umum APSESI Dr. Binti Nur Asiyah dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang menyampaikan pentingnya Literasi Keuangan Syariah, pentingnya pemanfaatan akad aadi'ah bagi para nelayan dan pelaku UMKM pesisir mengamankan hasil tangkap ikan. akad ini dinilai memberikan rasa aman dan ketenangan dalam menyimpan hasil pendapatan laut maupun transaksi usaha.

Mbah Nono sebagai sesepuh Komunitas Pantai Sine yang mewedar tentang bagaimana kehidupan masyarakat nelayan pantai Sine, mereka mengalami pergeseran bahkan perubahan profesi karena kurangnya modal. Menjadi nelayan membutuhkan modal minimal 200 ribu untuk sekali melaut, dan jumlah tersebut tidak terjangkau, sehingga untuk bertahan mereka terpaksa menjadi penyedia jasa layanan wisata pantai, seperti menjadi juru parker, menyewakan tikar dan berjualan makanan di sekitar pantai.

International Community Service ini juga menunjukkan dukungan dunia industri dari pimpinan Bank Syariah Indonesia (BSI) Tulungagung, Bapak Fazli beserta tim, memaparkan komitmen BSI dalam memfasilitasi kebutuhan finansial masyarakat pesisir. BSI siap menghadirkan layanan tabungan, investasi, hingga pembiayaan pendukung usaha perdagangan ikan dan UMKM lokal.  Acara dipungkasi dengan pendalaman materi tentang Perspektif Blue Economy,  oleh Mr. Asif Iqbal Siddiqui, Phd, MBA, MSS, Director ESG & Sustainability Circular Economics Pte Ltd. Dari Curtin University, Australia. beliau menggarisbawahi pentingnya menjaga kelestarian laut serta pengelolaan sampah pesisir guna mencegah pencemaran ekosistem laut yang berdampak langsung pada rantai pasok ikan dan kesejahteraan warga.

Pada sesi terakhir, terungkap bahwa selain tantangan modal masyarakat nelayan juga mengalami  tantangan berat dalam memelihara lingkungan oleh akumulasi sampah kiriman yang terbawa aliran sungai Niyama menuju area pantai. Melalui kegiatan PKM internasional ini, diharapkan tercipta rumusan solusi berkelanjutan yang memadukan literasi keuangan syariah, penguatan kapasitas UMKM halal, serta tata kelola lingkungan berbasis “blue economy” demi kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha pesisir Selatan Jawa. (Nuril &Wildan).

Febi Media Center


Berita Lainnya