Toxic Vs. Supportive Talent Management: How To Improve College Students’ Personality on Campus and In The Workplace
KEDIRI - Program
Studi Manajemen Bisnis Syariah (MBS), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Syekh Wasil Kediri, menyelenggarakan kegiatan Studium General Tahun
2026 bertajuk “Toxic Vs. Supportive Talent Management: How to Improve
College Students’ Personality on Campus and in the Workplace” pada Rabu, 7
Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Home Theater Lantai 4
Perpustakaan UIN Syekh Wasil Kediri mulai pukul 08.00 WIB ini menjadi momentum
penting dalam membekali mahasiswa dengan wawasan pengembangan kepribadian,
pengelolaan potensi diri, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja.
Kegiatan tersebut dibuka secara
resmi oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Dr. H. Imam Annas
Mushlihin, M.HI., serta dihadiri Ketua Program Studi Manajemen Bisnis Syariah,
Dr. Nilna Fauza, M.HI., dan Sekretaris Program Studi Manajemen Bisnis Syariah,
Mohammad Zainuddin, M.EI. Studium General ini ditujukan khususnya bagi
mahasiswa baru Program Studi MBS semester I sebagai bagian dari penguatan
karakter dan kesiapan akademik sejak awal perkuliahan.
Menghadirkan dua narasumber dari
kalangan praktisi dan akademisi, kegiatan ini menghadirkan Alwahidul Mubarok,
M.Si., Menteri Spiritual Nasional Sukses Berkah Community (SBC), sekaligus
praktisi bisnis dan mentor kewirausahaan, serta Iska Yanuartanti, S.T., M.T., Konsultan
Bisnsis sekaligus memiliki pengalaman profesional di industri perbankan
syariah.
Jalannya kegiatan dipandu oleh Naela
Nuril Alfin mahasiswa semester V Program Studi Manajemen Bisnis Syariah yang
juga merupakan Duta Santri dan Duta FEBI. Keterlibatan mahasiswa sebagai
moderator sekaligus menjadi wujud pemberian ruang aktualisasi diri,
pengembangan kemampuan komunikasi, dan kepemimpinan mahasiswa.
Penyelenggaraan Studium General ini
dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan kompetensi nonakademik mahasiswa di
tengah perubahan lingkungan pendidikan dan dunia profesional. Mahasiswa tidak
cukup hanya menguasai pengetahuan teoritis, tetapi juga perlu memiliki
kecerdasan emosional, kemampuan berkomunikasi, keterampilan bekerja sama, serta
karakter yang mendukung terciptanya lingkungan yang sehat dan produktif.
Melalui tema Toxic Vs. Supportive
Talent Management, mahasiswa diajak memahami perbedaan antara perilaku yang
menghambat perkembangan individu maupun kelompok (toxic behaviour) dan
perilaku yang saling mendukung pertumbuhan (supportive behaviour).
Pemahaman tersebut menjadi penting karena lingkungan kampus merupakan ruang
awal pembentukan budaya kerja, kepemimpinan, dan hubungan profesional.
Kegiatan ini juga sejalan dengan
orientasi pendidikan Program Studi Manajemen Bisnis Syariah yang tidak hanya
menekankan penguasaan kompetensi manajerial, tetapi juga pembentukan pribadi
yang beretika, bertanggung jawab, dan berintegritas sesuai dengan nilai-nilai
Islam.

Alwahidul
Mubarok: Mahasiswa Harus Siap Menghadapi Dunia Nyata
Dalam pemaparan materi bertajuk “Ready
for the Real World: Turning Your Potential into Success”, Alwahidul Mubarok
mengajak mahasiswa untuk mulai mempersiapkan masa depan sejak berada di bangku
perkuliahan.
Melalui perspektif praktisi bisnis
dan mentor kewirausahaan, beliau menguraikan pentingnya perubahan pola pikir
mahasiswa dalam menghadapi transisi dari dunia akademik menuju dunia
profesional. Menurut kerangka materi yang disampaikannya, kehidupan setelah
lulus menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang menuntut kesiapan
kompetensi dan karakter.
Dunia kampus memberikan ruang bagi
mahasiswa untuk belajar, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan memperoleh
nilai. Sementara itu, dunia kerja menuntut kemampuan menghasilkan nilai tambah,
menyelesaikan persoalan, memenuhi tanggung jawab, serta menunjukkan kinerja dan
kompetensi secara nyata.
Mahasiswa juga perlu memahami bahwa
perkembangan teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan (artificial
intelligence), perubahan model bisnis, dan kemunculan profesi baru telah
mengubah kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu, kesiapan menghadapi masa depan
tidak cukup dibangun melalui capaian akademik semata, tetapi harus disertai
kemampuan beradaptasi, kemauan belajar, dan keberanian mengembangkan potensi
diri.
Melalui pengalaman di bidang bisnis,
pemberdayaan masyarakat, dan pendampingan kewirausahaan, Alwahidul memberikan
perspektif mengenai pentingnya membangun orientasi masa depan sejak dini.
Mahasiswa didorong untuk tidak sekadar memikirkan pekerjaan yang akan diperoleh
setelah lulus, tetapi juga kontribusi dan manfaat yang mampu diberikan kepada
masyarakat.
Iska
Yanuartanti: Kenali Diri, Kembangkan Potensi, dan Bangun Kepribadian Suportif
Sementara itu, Iska Yanuartanti
menyampaikan materi bertajuk “Know Yourself, Grow Yourself: Building a
Supportive Personality”. Melalui pendekatan reflektif, ia mengajak
mahasiswa mengenali kekuatan, kelemahan, kebiasaan, serta pengaruh perilaku
mereka terhadap orang lain.
Dalam materinya, Iska menekankan
bahwa perguruan tinggi bukan sekadar tempat memperoleh gelar akademik,
melainkan juga ruang pembentukan karakter dan identitas profesional. Proses
mengenali diri (self-awareness) menjadi langkah awal sebelum seseorang
mampu mengembangkan potensinya dan membangun hubungan yang sehat dengan
lingkungan sekitarnya.
Mahasiswa diajak mengubah pola pikir
tetap (fixed mindset) menjadi pola pikir bertumbuh (growth mindset).
Keterbatasan kemampuan tidak seharusnya dianggap sebagai kondisi permanen,
melainkan sebagai kesempatan untuk terus belajar, berlatih, dan memperbaiki
diri.
Selain itu, Iska menguraikan lima
kompetensi penting yang perlu dikembangkan mahasiswa, yaitu komunikasi (communication),
kolaborasi (collaboration), pemecahan masalah (problem solving),
kemampuan beradaptasi (adaptability), dan integritas (integrity).
Pembahasan juga diarahkan pada
berbagai bentuk perilaku tidak suportif di lingkungan kampus, seperti
merendahkan teman, menyebarkan gosip, menyalahkan anggota kelompok, komunikasi
pasif-agresif, dan sikap enggan membantu orang lain. Perilaku tersebut perlu
digantikan dengan kebiasaan saling menghargai, memberikan umpan balik yang
membangun, mengedepankan komunikasi terbuka, serta membantu sesama dalam
mencari solusi.
Salah satu pesan penting dalam
materi ini adalah bahwa menjadi pribadi suportif bukan berarti harus selalu
menyetujui pendapat orang lain. Sikap suportif justru tercermin dalam kemampuan
menyampaikan perbedaan pendapat secara santun, memberikan kritik yang
konstruktif, dan membantu orang lain berkembang tanpa merendahkan martabatnya.
Oleh karenanya, mahasiswa diharapkan tidak terburu-buru memberikan label
negatif kepada seseorang, tetapi lebih berfokus pada evaluasi perilaku dan
upaya perbaikan bersama.
Penguatan Soft
Skills sebagai Bekal Mahasiswa MBS
Kedua materi yang disampaikan
memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan pengembangan kompetensi mahasiswa
Manajemen Bisnis Syariah. Pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi dan
dunia bisnis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis manajerial, tetapi
juga menuntut pemahaman terhadap karakter individu, dinamika kelompok, etika
komunikasi, serta pembentukan budaya organisasi yang sehat.
Melalui Studium General ini,
mahasiswa memperoleh perspektif yang saling melengkapi antara pengalaman
praktis dunia usaha dan pendekatan akademik dalam pengembangan kepribadian.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat
pemahaman bahwa keberhasilan seseorang dalam dunia profesional tidak
semata-mata ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan juga oleh
kemampuan bekerja sama, mengelola emosi, membangun kepercayaan, serta menjaga integritas
dalam setiap tanggung jawab yang diemban.
Bagi mahasiswa Manajemen Bisnis
Syariah, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi khusus karena praktik bisnis
syariah menempatkan kejujuran, amanah, keadilan, tanggung jawab, dan
kemaslahatan sebagai landasan dalam pengelolaan organisasi maupun aktivitas
ekonomi.
Wujud Komitmen
FEBI dalam Menyiapkan Lulusan Unggul dan Berkarakter
Penyelenggaraan Studium General
Tahun 2026 merupakan salah satu bentuk komitmen Program Studi Manajemen Bisnis
Syariah FEBI UIN Syekh Wasil Kediri dalam menghadirkan pengalaman pembelajaran
yang relevan dengan perkembangan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ini diharapkan mampu
menumbuhkan kesadaran mahasiswa bahwa proses pendidikan tinggi merupakan
perjalanan pengembangan diri yang berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya
dipersiapkan untuk menjadi lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga
individu yang matang secara emosional, adaptif terhadap perubahan, dan mampu
memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.
Melalui semangat “Know Yourself,
Grow Yourself”, mahasiswa MBS didorong untuk terus mengenali potensi,
memperbaiki kelemahan, serta membangun kepribadian suportif sejak awal
perkuliahan.
Dengan demikian, Studium General ini tidak hanya menjadi forum pengayaan wawasan, tetapi juga bagian dari ikhtiar membentuk generasi muda yang profesional, berdaya saing, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi dalam pengembangan ekonomi serta bisnis yang berlandaskan nilai-nilai syariah.
red: FEBI Media

